Kumpulan Berita – Deretan bintang papan atas, ribuan figuran, dan lebih dari dua juta kaki (sekitar 609 kilometer) film seluloid IMAX digunakan Christopher Nolan untuk mewujudkan The Odyssey (2026). Angka tersebut bahkan hampir setara dengan jarak Jakarta hingga Ngawi. Skala produksi yang begitu besar menunjukkan ambisi Nolan dalam mengadaptasi salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah, yakni kisah epik The Odyssey karya Homer yang telah bertahan selama hampir tiga milenium.
Setelah sukses menghadirkan trilogi The Dark Knight yang realistis, mengajak penonton bermain dengan konsep waktu dan realitas melalui Inception, hingga menghadirkan drama sejarah dalam Oppenheimer, Nolan kembali dengan proyek yang tidak kalah ambisius.
Kali ini, ia mencoba menerjemahkan kisah perjalanan Odysseus ke layar lebar melalui pendekatan sinematik khasnya. Lantas, seperti apa kisah The Odyssey dan apakah film ini layak ditonton? Berikut sinopsis dan ulasan singkatnya.
Sinopsis Singkat: Perjalanan Pulang yang Penuh Rintangan
Kisah The Odyssey dibuka dengan kondisi Kerajaan Ithaca yang berada dalam kekacauan. Raja mereka, Odysseus (Matt Damon), belum kembali selama 20 tahun sejak berakhirnya Perang Troya. Banyak orang bahkan menganggapnya telah meninggal dunia.
Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh para pelamar atau suitors yang memenuhi istana dan berlomba-lomba mendapatkan Penelope (Anne Hathaway), istri Odysseus. Mereka berharap dapat menikahi Penelope sekaligus mengambil alih kekuasaan di Ithaca.
Sementara itu, Penelope dan putranya, Telemachus (Tom Holland), berada dalam tekanan. Jika Odysseus tidak segera kembali, keluarga kerajaan dan masa depan Ithaca terancam.
Lantas, di mana Odysseus?
Odysseus ternyata terdampar di sebuah pulau misterius bersama Calypso (Charlize Theron). Ia berada dalam kondisi lemah dan kehilangan sebagian ingatannya. Namun, ketika ingatan tentang dirinya, keluarga, dan rumahnya perlahan kembali, Odysseus menyadari bahwa ia harus berjuang untuk pulang.
Perjalanan tersebut menjadi inti cerita. Ia harus melintasi lautan dan menghadapi berbagai ancaman, mulai dari monster, raksasa, makhluk mitologi, hingga sihir Circe (Samantha Morton) dan campur tangan para dewa Olympus.
1. Epik Homer Bertemu Gaya Penceritaan Christopher Nolan
Christopher Nolan tidak sekadar mengadaptasi The Odyssey secara harfiah. Ia mengemas kisah klasik Homer dengan pendekatan yang menonjolkan permainan waktu dan persepsi, sesuatu yang telah menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun.
Seperti Memento (2000), Interstellar (2014), hingga Oppenheimer (2023), waktu kembali memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman penonton.
Nolan merangkai tiga alur utama secara bersamaan, yaitu perjalanan Odysseus di lautan, perjuangan Penelope mempertahankan Ithaca dari tekanan para pelamarnya, serta pencarian Telemachus terhadap ayahnya.
Ketiga alur tersebut saling terhubung melalui penyuntingan Jennifer Lame. Perpindahan antarkisah terasa dinamis sehingga durasi film yang hampir tiga jam tetap terasa mengalir.
Lebih dari sekadar menghadirkan petualangan, Nolan juga mengubah perjalanan pulang Odysseus menjadi sebuah refleksi filosofis. Ithaca tidak hanya menjadi tempat tujuan, tetapi juga simbol identitas yang perlahan terkikis oleh perang, rasa bersalah, kehilangan, dan berlalunya waktu.
Laut pun tidak sekadar menjadi latar petualangan. Nolan menjadikannya metafora tentang ketidakpastian, kehilangan arah, dan pencarian makna hidup.
Karena itu, The Odyssey tidak hanya menawarkan kisah kepahlawanan Yunani. Film ini juga mengajak penonton merenungkan bagaimana manusia menghadapi konsekuensi dari pilihan yang telah dibuat.
2. Visual IMAX Kolosal dan Desain Suara yang Menggelegar
Jika ada film yang terasa cocok untuk ditonton di layar IMAX, The Odyssey menjadi salah satu kandidat kuat. Sinematografer Hoyte van Hoytema kembali menunjukkan kemampuannya dalam membangun visual berskala besar.
Bentang laut, tebing, kapal perang, hingga kemunculan makhluk mitologi seperti Cyclops, Scylla, dan Siren tampil dengan skala yang mengesankan.
Sejalan dengan pendekatan Nolan pada film-film sebelumnya, The Odyssey juga mengutamakan penggunaan efek praktis dan mengurangi ketergantungan pada CGI berlebihan. Pendekatan tersebut membuat berbagai adegan terasa lebih nyata dan memiliki bobot fisik.
Selain visual, desain suara menjadi salah satu kekuatan utama film. Ludwig Göransson menghadirkan musik yang memadukan instrumen klasik dengan sentuhan modern, sementara tata suara memperkuat atmosfer setiap adegan.
Suara ombak, hembusan angin, hingga bunyi tali busur yang ditarik Odysseus terdengar begitu detail. Ketika kapal dihantam badai, penonton seolah ikut merasakan guncangan dan ketegangan yang dialami para karakter.
Begitu pula ketika para Siren mulai bernyanyi. Suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi mencekam. Beberapa adegan bahkan memiliki ketegangan yang cukup kuat untuk membuat penonton bertanya-tanya bagaimana jadinya jika suatu saat Nolan benar-benar menyutradarai film horor.
3. Ensemble Cast Bertabur Bintang yang Tampil Kuat
Dengan jajaran pemeran yang dipenuhi aktor papan atas, muncul kekhawatiran bahwa beberapa karakter hanya akan menjadi pelengkap. Namun, film ini mampu memberikan ruang yang cukup kepada karakter-karakter utamanya.
Matt Damon tampil kuat sebagai Odysseus. Ia mampu memperlihatkan sosok pemimpin yang tangguh sekaligus rapuh. Odysseus bukan sekadar pahlawan perang, tetapi seseorang yang harus menghadapi konsekuensi dari keputusan dan tipu daya yang pernah ia gunakan.
Anne Hathaway juga memberikan penampilan emosional sebagai Penelope. Ia tidak menggambarkan Penelope sebagai sosok yang hanya menunggu kepulangan suaminya. Sebaliknya, Penelope tampil sebagai sosok yang berusaha mempertahankan keluarga dan Ithaca di tengah tekanan politik serta ancaman para pelamar.
Tom Holland pun tampil meyakinkan sebagai Telemachus. Tumbuh tanpa kehadiran ayah membuatnya harus menghadapi proses pendewasaan sekaligus mencari jati dirinya. Perkembangan karakter Telemachus menjadi salah satu bagian menarik dalam perjalanan cerita.
Robert Pattinson juga tampil sebagai Antinous, salah satu tokoh penting di antara para pelamar Penelope. Sementara itu, Zendaya memerankan Athena dan kehadirannya menjadi semakin penting ketika cerita berkembang.
Charlize Theron sebagai Calypso serta sejumlah pemeran pendukung lainnya juga mendapatkan ruang yang cukup untuk mengembangkan karakter masing-masing tanpa menggeser fokus utama cerita.
4. Kisah tentang Konsekuensi, Keberanian, dan Keyakinan
Di balik monster, peperangan, dan skala produksi yang kolosal, The Odyssey sebenarnya menyampaikan gagasan sederhana: setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Odysseus bukanlah pahlawan yang sempurna. Ia memenangkan Perang Troya melalui tipu daya Kuda Troya, tetapi kemenangan tersebut justru menjadi awal dari perjalanan panjang dan penuh penderitaan.
Dalam perjalanan pulang, ia harus menghadapi berbagai konsekuensi moral dari keputusan yang pernah dibuatnya. Perjalanan tersebut akhirnya tidak hanya menjadi usaha untuk kembali ke rumah, tetapi juga proses untuk memahami dirinya sendiri.
Kisah Odysseus juga dapat dibaca melalui gagasan tentang keyakinan dan keteguhan hati. Ia terus bergerak meskipun tidak memiliki kepastian bahwa perjalanan tersebut akan berakhir sesuai harapan.
Keyakinannya bukan muncul karena ia mengetahui masa depan. Ia tetap melangkah meskipun menghadapi ketidakpastian, bahaya, dan berbagai godaan yang dapat membuatnya menyerah.
Melalui pendekatan khas Christopher Nolan, kisah mitologi Yunani ini pun terasa relevan dengan kehidupan modern. The Odyssey berbicara tentang kepemimpinan, rasa bersalah, pengampunan, keluarga, dan keberanian untuk terus percaya ketika keadaan seolah mengatakan sebaliknya.

