Kebakaran Lahap Desa Adat Sade Lombok, Pemerintah Siapkan Rekonstruksi

Kumpulan Berita – Desa Adat Sade yang berada di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, habis dilalap api pada Sabtu malam (22/8/2026).

Api menghanguskan sejumlah bangunan yang menjadi bagian penting dari kawasan permukiman adat sekaligus destinasi wisata budaya tersebut. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga menyisakan kekhawatiran terhadap kelestarian warisan budaya masyarakat setempat.

Mila Sari, seorang warga yang menyaksikan kebakaran tersebut, mengatakan seluruh kawasan desa adat dilalap api. “Seluruh rumah adat, semuanya habis terbakar. Tidak ada yang tersisa,” katanya kepada Suara NTB.

Kebakaran diketahui bermula dari musala yang berada di kawasan desa adat sekitar pukul 22.00 Wita. Kobaran api kemudian dengan cepat menyambar rumah-rumah di sekitarnya.

Hingga Senin (24/8/2026) pagi, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui. Namun, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menyampaikan dugaan sementara bahwa kebakaran berkaitan dengan aliran listrik di kawasan tersebut.

“Kemungkinan ada yang terkait dengan elektriknya, dengan listrik yang ada… Aliran listrik yang ada di situ. Di beberapa bangunan itu,” ujar Iqbal.

Pendataan dampak kebakaran dilakukan bersama jajaran TNI-Polri, pemerintah daerah, Dinas Pariwisata, kepala desa, kepala dusun, serta unsur terkait lainnya. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh dampak bencana dapat teridentifikasi. Berdasarkan penghitungan sementara, total kerugian akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp34 miliar.

Rencana Pembangunan Ulang Desa Adat Sade

Masyarakat Desa Adat Sade berharap ratusan rumah yang terbakar dapat segera dibangun kembali. Pemerintah pun memastikan proses pemulihan akan dilakukan setelah penanganan kondisi darurat selesai.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat Desa Sade akan bersama-sama memastikan proses rekonstruksi berjalan dengan tetap memperhatikan karakter dan nilai budaya setempat.

“Prioritas kita sekarang adalah masyarakat. Setelah kondisi darurat tertangani, kita akan bersama-sama memikirkan pemulihannya. Kita ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak,” kata Widiyanti.

Di tengah besarnya dampak yang ditimbulkan, pembangunan kembali diharapkan tidak sekadar menggantikan bangunan yang rusak, tetapi juga mempertahankan karakter, tradisi, dan identitas Desa Adat Sade. Dengan dukungan berbagai pihak serta keterlibatan masyarakat setempat, Desa Adat Sade diharapkan dapat kembali bangkit sebagai ruang hidup masyarakat sekaligus destinasi wisata budaya yang tetap terjaga bagi generasi mendatang.