Kumpulan Berita – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum rangkaian kejadian bencana hidrometeorologi yang meluas di kawasan lereng Gunung Slamet, Provinsi Jawa Tengah. Bencana tersebut dipicu curah hujan tinggi dengan durasi panjang yang terjadi secara beruntun dalam beberapa hari terakhir.
Rangkaian kejadian berupa banjir bandang, banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem telah mengakibatkan korban jiwa. Selain itu kerusakan infrastruktur, gangguan aksesibilitas wilayah, serta pengungsian warga di Kabupaten Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal.
Malam itu, keheningan di lereng gunung pecah oleh suara air bercampur batu dan lumpur meluncur deras dari perbukitan. Hujan deras yang mengguyur sejak Jumat, 23 Januari 2026, menjadi pemicu. Berikutnya, di bagian barat laut lereng Gunung Slamet, banjir bandang kembali terjadi di kawasan Obyek Wisata Guci, pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 01.30 WIB. Hujan lebat disertai angin kencang menyebabkan banjir bandang pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Gung yang melintasi kawasan wisata tersebut.
“BNPB mencatat kejadian ini merupakan banjir bandang kedua dalam waktu dekat di kawasan Obyek Wisata Guci,” terangnya.
Dampak kejadian mengakibatkan perubahan morfologi alur sungai serta kerusakan sejumlah sarana dan prasarana wisata. Diantara lain ambruknya Jembatan Jedor dan jembatan di wilayah Pancuran 13, kerusakan area wisata Pancuran 13 dan Pancuran 5. Kemudian kerusakan jembatan gantung Pancuran 5, serta satu unit excavator mini yang hanyut terbawa arus.
Tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga. Aktivitas wisata di beberapa titik terdampak dihentikan sementara guna mengurangi risiko terhadap keselamatan pengunjung.
Faktor Pemicu
Berdasarkan hasil kaji cepat BNPB yang mengacu pada analisis forensik bencana sementara, rangkaian kejadian ini turut dipengaruhi oleh karakteristik kawasan lereng Gunung Slamet. Oleh karena memiliki topografi curam, jaringan sungai berhulu pendek, serta tingkat kerentanan tinggi terhadap peningkatan debit aliran permukaan saat hujan ekstrem.
Akumulasi curah hujan di wilayah hulu menyebabkan respons hidrologi yang cepat, memicu banjir bandang dengan muatan sedimen tinggi. Kemudian meningkatkan potensi longsor pada lereng dan tebing sungai. Perubahan alur dan pendangkalan sungai pada sejumlah DAS turut meningkatkan risiko banjir di wilayah hilir.
Sebagai upaya mitigasi, BNPB mendorong penguatan pengelolaan daerah aliran sungai dan kawasan lereng Gunung Slamet secara terpadu. Antara lain melalui penataan dan normalisasi alur sungai, penguatan struktur pengaman tebing dan jembatan, serta pengendalian pemanfaatan ruang di zona rawan banjir bandang dan longsor.
Selain itu, peningkatan sistem peringatan dini berbasis curah hujan dan debit sungai, pembatasan aktivitas di kawasan wisata alam saat hujan lebat. Kemudian penguatan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat di wilayah hulu dan hilir DAS menjadi langkah penting dalam pengurangan risiko bencana.

