Kumpulan Berita – Banyak orang masih bertanya-tanya, apa itu penyakit GERD dan bagaimana membedakannya dari gangguan pencernaan lainnya seperti maag. GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease adalah kondisi medis kronis yang disebabkan oleh naiknya asam lambung ke kerongkongan secara berulang.
Gejala yang ditimbulkan bisa sangat mengganggu, mulai dari rasa terbakar di dada (heartburn), mual, hingga rasa pahit di mulut. Bila dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, GERD bisa berkembang menjadi komplikasi serius. Artikel ini akan mengulas secara lengkap apa itu penyakit GERD, mulai dari definisi, proses terjadinya, perbedaannya dengan maag, hingga siapa saja yang berisiko mengalaminya.
GERD terjadi apabila asam lambung dari perut mengalir kembali (refluks) ke dalam esofagus (saluran makanan atau kerongkongan).
-
- Pada situasi yang normal, makanan masuk dari mulut kemudian diteruskan ke esofagus bawah.
- Untuk menghindari naiknya kembali makanan ataupun asam lambung ke esofagus, ada otot yang bernama sfingter esofagus yang menutup pintu masuk menuju lambung.
- Kemudian makanan akan ditampung sekitar 3 – 4 jam untuk selanjutnya dicerna.
Dalam kasus GERD, bagian sfingter esofagus mengalami gangguan atau melemah, sehingga membuat proses relaksasi menjadi terlalu kendur. Ini dapat menyebabkan naiknya makanan yang ditampung beserta cairan asam lambung ke esofagus. Kondisi ini disebut dengan “refluks”. Refluks ini membuat iritasi dan dapat merusak lapisan esofagus. Refluks juga dapat mencapai pita suara, atau bahkan mengalir ke dalam paru-paru. Ketika makanan dan asam lambung naik mencapai kerongkongan, umumnya penderita akan merasakan sensasi panas seperti terbakar pada dadanya (heartburn).
Penyebab GERD
Penyebab GERD adalah melemahnya otot LES sehingga tidak mampu menahan isi lambung atau asam lambung agar tidak naik ke kerongkongan. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat mengiritasi lapisan kerongkongan hingga menyebabkan peradangan.
Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab GERD, yaitu:
- Obesitas
- Kehamilan
- Usia lanjut
- Kebiasaan sering berbaring atau tidur setelah makan
- Gastroparesis, yaitu melemahnya otot dinding lambung sehingga pengosongan lambung melambat
- Gangguan jaringan ikat, misalnya skleroderma atau lupus
- Penyakit bawaan lahir, seperti hernia hiatus dan atresia esofagus
- Pernah menjalani operasi di area dada atau perut bagian atas sehingga melukai kerongkongan
- Efek samping obat-obatan tertentu, misalnya aspirin, ibuprofen, benzodiazepin, antidepresan, atau obat terapi hormon untuk menopause
Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat memperparah gejala GERD:
- Kebiasaan merokok atau sering terpapar asap rokok (perokok pasif)
- Diet ekstrim atau telat makan saat puasa
- Sering makan dalam porsi besar atau makan pada tengah malam
- Mengonsumsi makanan yang asam, berlemak, atau berbumbu pedas
- Mengonsumsi minuman berkafein, beralkohol, atau bersoda
- Mengalami gangguan kecemasan atau stres yang tidak terkelola dengan baik (GERD anxiety)
Komplikasi GERD
Jika tidak ditangani, GERD dapat menyebabkan sejumlah komplikasi berikut:
- Esofagitis, yaitu peradangan di lapisan kerongkongan yang ditandai dengan sakit dan sulit saat menelan
- Penyempitan kerongkongan akibat pembentukan jaringan parut
- Esofagus Barrett, yaitu kondisi prakanker pada kerongkongan
- Aspirasi paru, yaitu ketika asam lambung masuk ke paru-paru

