Kumpulan Berita – Akibat invasi Rusia dan Ukraina, kestabilan ekonomi di seluruh dunia terganggu sehingga menyebabkan kenaikan harga di berbagai sektor, khususnya di sektor pangan dan energi. Presiden Joko Widodo sendiri mengingatkan masyarakat Indonesia tentang tantangan yang akan dihadapi oleh seluruh dunia karena kemungkinan akan ada kelonjakan harga di sektor pangan dan energi.
Himbauan dari Jokowi disampaikan langsung saat meresmikan Pembukaan Rapat Kerja Nasional V Projo Tahun 2022 di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Senin (23/5/2022).
“Tidak mudah, terutama dua hal di seluruh negara yang sekarang ini naik semuanya. Yang pertama, energi, energi ini berarti BBM, gas, listrik semuanya naik, semua negara. Yang kedua pangan, naik semuanya,” ucap Jokowi.
Meskipun seluruh dunia akan dihadapkan dengan tantangan ini, pemerintah Indonesia terus berupaya agar kelonjakan harga di sektor pangan dan energi tidak terlalu naik signifikan. Salah satu upaya pemerintah Indonesia yang disebutkan Jokowi dalam acara tersebut adalah mengenai kebijakan pemerintah terhadap kenaikan harga minyak goreng.
Dalam kasus kenaikan harga minyak goreng, pemerintah Indonesia mengambil tindakan dan memberikan sejumlah kebijakan untuk menjaga harga minyak goreng tetap stabil di pasaran. Namun meskipun begitu, Jokowi mengakui bahwa kasus kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng bukanlah perkara yang mudah untuk diselesaikan. Jokowi sendiri menjelaskan tentang kenaikan harga minyak goreng yang sudah terjadi sejak bulan Januari 2022 juga disebabkan karena adanya kenaikan harga minyak goreng dalam lingkup internasional.

“Karena harga minyak goreng terutama di Eropa, di Amerika naiknya tinggi, harga di dalam negeri ketarik [naik harganya],” kata Jokowi.
Oleh karena harga minyak goreng yang lebih tinggi jika dijual ke luar negeri, hal tersebut kemudian membuat produsen minyak goreng lokal lebih memilik mengekspor minyak goreng ke luar negeri karena lebih menguntungkan. Sedangkan harga minyak goreng jika dijual di dalam negeri tidak akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Akibatnya, pada kuartal pertama awal tahun 2022 masyarakat Indonesia sulit mendapatkan minyak goreng karena stoknya sangat sedikit untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jokowi sendiri kemudian membuat kebijakan tentang larangan ekspor minyak goreng ke luar negeri demi bisa memenuhi kebutuhan minyak goreng dalam negeri.
“Akhirnya saya setop, setop minyak goreng enggak boleh ekspor. Tetapi itu juga kebijakan yang tidak mudah,” ujar Jokowi.
Setelah kebijakan larangan ekspor minyak goreng diterapkan, tentu saja banyak yang terdapat akibat kebijakan tersebut. Seperti contohnya yakni harga tandan sawit yang jatuh, serta 17 juta tenaga kerja di perkebunan sawit juga terdampak akibat larangan ekspor minyak goreng. Meskipun begitu, Jokowi tetap optimis dengan keadaan Indonesia dalam dua pekan kedepan dan yakin harga minyak goreng akan kembali normal seperti semula.
“Negara ini mencari keseimbangan seperti itu tidak mudah, jangan dipikir gampang, tidak mudah. Begitu juga selain urusan petani, urusan pekerja di sawit, juga urusan income negara,” ucap Jokowi.
“Tapi ini kuncinya sudah ketemu, ini dalam seminggu, dua minggu, Insyaallah yang namanya minyak goreng curah akan berada di harga Rp14.000 [perliter],” ujar Jokowi.
Sebagai kepala negara, Jokowi juga mengatakan ia selalu melakukan pemantauan terhadap ketersediaan dan harga minyak goreng di Indonesia. Selain minyak goreng, Jokowi juga mengucap syukur karena harga dan stok beras yang stabil dan mencukupi. Selain itu, nilai impor beras yang dilakukan Indonesia juga sangat kecil dalam tiga tahun terakhir.
“Tadi saya cek di Pasar Muntilan, saya mampir di Pasar Muntilan tadi, cek harga berapa per liter Rp14.500. Besok saya mau cek di pasar-pasar yang lain, mungkin dalam waktu seminggu dua minggu saya kira semua pasar sudah harganya seperti itu,” kata Jokowi.
“Biasanya kita impor 1,1 juta sampai 2 juta ton per tahun, sudah tiga tahun ini kita tidak. Ini yang harus dipertahankan. Syukur stoknya bisa kita perbesar. Artinya produktivitas petani itu harus ditingkatkan,” ucap Jokowi.

