Kumpulan Berita – Insiden penembakan di Amerika Serikat kembali terjadi di sekolah. Penembakan yang terjadi di Sekolah Dasar Robb, Uvalde, Texas Selatan ini dilakukan oleh seorang remaja berusia 18 tahun yang diidentifikasi bernama Salvador Ramos. Akibat penembakan brutal di sekolah ini, Salvador Ramos setidaknya menewaskan 21 orang dengan 19 orang merupakan anak-anak dan 2 orang dewasa.
Ramos sendiri diketahui bukan berasal dari sekolah dasar tersebut, tetapi ia merupakan siswa dari SMA Uvalde dan berkewarganegaraan AS. Menurut keterangan aparat setempat, dalam insiden penembakan Ramos beraksi sendirian dan sampai saat ini belum diketahui motif dari penembakan di sekolah dasar di Texas. Ramos sendiri tewas di tempat tertembak polisi akibat melawan untuk ditangkap setelah insiden penembakan berlangsung.
Insiden penembakan di SD Robb ini menjadi penembakan massal ke-30 yang terjadi di sekolahan di Amerika Serikat sejak awal tahun 2022. Berbagai penembakan massal yang terjadi di Amerika Serikat sejak awal tahun 2022 terjadi di berbagai level pendidikan baik SD, SMP, maupun SMA.

SD Robb di Texas sendiri di tahun ajaran setidaknya memiliki 535 siswa dan mengajar kelas 2 hingga kelas empat (siswa umur 7-10 tahun). Selain itu, siswa di SD Robb sendiri diketahui 90% nya merupakan orang keturunan Hispanik dan 81% diantaranya merupakan siswa dari keluarga dengan ekonomi menengah kebawah.
Penembakan yang terjadi di SD Robb menjadi penembakan massal di sekolah paling mematikan sepanjang sejarah. Penembakan massal yang memakan korban paling banyak terjadi pada bulan Februari tahun 2018 di SMA Marjory Stoneman Douglas, Florida dan menewaskan 17 orang. Selain di Florida, penembakan massal paling brutal juga pernah terjadi di bulan Desember 2012 di SD Sandy Hook, Connecticut dan menewaskan 20 anak dan 6 orang dewasa.

Jika dihitung secara keseluruhan, sejak awal tahun 2022 menurut Gun Violence Archive (GVA) sudah ada total 212 insiden penembakan massal di Amerika Serikat. Dilansir dari CNN, GVA sendiri memberikan kategori penembakan massal jika insiden penembakan menewaskan lebih dari 4 orang dan tidak termasuk pelaku.
Akibat penembakan massal ini, Presiden Joe Biden dalam pidatonya di Gedung Putih menegaskan bahwa inilah saatnya warga negara AS mendukung pengetatan kepemilikan senjata.
“Atas nama Tuhan, kapan kita akan mendukung reformasi hukum kepemilikan senjata (gun lobby)? Ini waktunya mengubah rasa sakit dan kehilangan dalam aksi nyata bagi seluruh orang tua dan warga di negara ini. Kita harus memperjelas kepada para pejabat terpilih: Ini waktunya beraksi,” ujar Biden dalam pernyataan persnya seperti dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (25/5/2022).
“Kehilangan seorang anak seperti separuh jiwa Anda direnggut,” ucap Biden sembari bercerita mengenai pengalaman pribadinya kehilangan anak dan istri yang tewas karena kecelakaan.

