Perang Terus Berlanjut Di Gaza

Perang Terus Berlanjut Di Gaza

Tidak Ada Solusi Untuk Mencapai Perdamaian

kumpulanberita – Rumah dan puluhan orang yang tewas serta gedung-gedung hancur karena pertempouran antara Israel dengan Gaza akhir pekan yang lalu menjelang Ramadan. Anehnya pada hari senin kedua belah pihak menyatakan puas dengan apa yang sudah mereka lakukan.

Alasan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kenapa harus menggempur Hamas, yang merupakan kelompok perjuangan kemerdekaan palestina yang menguasai Gaza, adalah untuk menjelaskan bawah rakyat palestina tidak siap dengan perdamaian dan solusi dua negara itu mustahil.

Dipihak lain Hamas yang selama ini menuntut Israel mencabut blokade Gaza, harus memperlihatkan betapa warga Gaza sangat menderita dan strategi mereka mengangkat senjata itu efekti. Sehingga menghasilkan simbiosis mutualisme yang aneh.

Mantan pejabat Otoritas Palestina menyebut bahwa hubungan antara kedua belah pihak yang bertikai merupakan Perundingan lewat tembakan. Dimana Israel dan Hamas mempunyai kepentingan satu sama lain dan mereka semakin terbiasa dengan cara seperti itu.

Sejak perang 50 hari yang terjadi pada tahun 2014 silam, pertempuran ahir pekan yang lalu merupakan yang terburuk. Aksi saling balas serangan itu terkadang berlangsung lebih dari satu hari dan berakhir lewat gencatan senjata yang biasanya digagas oleh mesir. Dimana Gencatan senjata itu pertanda kedua belah pihak tidak menginginkan perang total.

Netanyahu tampaknya tidak berselera untuk menghancurkan Hamas, walauppun seruang datang dari politikus sayap kanan untuk melakukannya. Israel akan menghadapi masalah berikutnya, jika mereka menghancurkan Hamas. Dimana Israel harus bertanggung jawab terhadap dua juta penduduk Gaza. Selain itu juga ada ancaman dari keloompok lebih radikal ketimbang Hamas, yaitu Jihad Islam yang selama ini menjadi pesaing Hamas di Gaza dan juga elemen ISIS yang beroperasi di Gurun Sinai.

Perang Terus Berlanjut Di Gaza

Baca Juga: Allianz dan TessLine Buang Badan

Para pengamat menilai keberadaan Hamas mendukung agenda pemerintahan Netanyahu yang selama ini dipandang menolak solusi dua negara damai. Dengan otoritas Palestina yang mengelola Tepi Barat dan Hamas di Gaza. Maka dari itu tidak akan ada jalan untuk solusi dua negara tersebut.

Dari sisi Hamas mengatakan bahwa lebih baik punya pemerintahan seperti saati ini daripada pemerintah yang lebih moderat yang ingin mencapai perdamaian, menurut Celine Touboul, pengamat Gaza di Yayasan Kerja Sama ekonomi Israel. Bagi Hamas kompetisi politik, mereka ingin melemahkan Otoritas Palestina semaksimal mungkin.

Selama ada tiga negara (Israel-Tepi Barat-Gaza) maka tidak akan pernah bisa mencapai solusi dua negara.