Mengenal Ragam Varian Kopi Lokal di Indonesia

Kumpulan Berita – Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen biji kopi terbesar keempat di dunia, setelah Brasil, Kolombia, dan Vietnam. Tak heran, kopi menjadi salah satu komoditas unggulan. Dalam perkembangannya, setiap daerah memiliki karakter dan keunikan tersendiri.

Hadirnya kopi di Indonesia dimulai pada tahun 1696, Perusahan Hindia Timur Belanda, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang membawanya mendarat di Pulau Jawa. Kopi tersebut diangkut dari Malabar, India. Alhasil, kopi menjadi penghasilan utama bagi perkebunan VOC pada 1700-an. Membludaknya penjualan biji kopi Hindia Belanda, sebutan Indonesia kala itu, mampu mengalahkan ekspor dari sentra kopi di Mocha, Yaman. Saat itu secangkir kopi sampai disebut dengan Cup of Java, saking populernya kopi dari tanah air.

Dalam artikel ini, kita akan membahas 7 jenis kopi di Indonesia yang terkenal, mencakup keunikan dan cita rasanya.

Kopi Toraja

Di daerah paling barat di Indonesia, terdapat dua jenis kopi yang diproduksi, yaitu kopi jenis Arabika dan Robusta. Nah, yang paling terkenal dari Aceh adalah kopi Gayo Arabika-nya yang digadang-gadang sebagai salah satu kopi terbaik di dunia. Karakteristik yang paling kuat milik kopi Aceh Gayo ini adalah aromanya yang sangat tajam. Selain itu, kopi Gayo tidak memberi bekas rasa pahit yang lekat di lidah setelah meminumnya, berbeda dengan kebanyakan jenis kopi di Indonesia lainnya yang meninggalkan aftertaste pahit. Inilah alasan mengapa banyak orang sangat menikmati kopi Aceh Gayo.

Kopi Arabika Mandailing, Sumatera Utara

Jika Sidikalang memiliki kopi robusta, maka di daerah Sumatera Utara lainnya, Mandailing, juga memiliki produk kopi arabika yang terkenal dan menjadi favorit penikmat kopi sejak tahun 1800-an. 

Berkualitas tinggi, jenis kopi ini ditanam di daerah gunung vulkanik Leuser yang hingga kini masih terjada. Memiliki tingkat keasaman yang rendah, kopi yang memiliki sentuhan cita rasa coklat dan rempah ini cocok bagi para pecinta kopi yang memiliki pencernaan yang lebih sensitif. 

Kopi Bali Kintamani

Karakteristik kopi nusantara yang satu ini adalah cita rasa kesegaran dari asam (citrus) seperti jeruk. Aromanya dianggap eksotis dilengkapi dengan tekstur yang light, membuat kopi ini tidak terlalu terasa pahit dan tidak meninggalkan aftertaste pekat setelahnya. Nah, oleh sebab itu, kopi jenis ini mungkin saja bisa lebih banyak dinikmati oleh orang-orang yang tidak terlalu suka minum kopi dengan body yang ‘berat’.

Kopi Arabika Java Ijen Raung, Jawa Timur

Bercita rasa khas asal Bondowoso, Jawa Timur, kopi ini memiliki kesan rasa asam Jawa dengan sedikit rasa pedas. Terdapat dominan rasa pahit pada kopi juga tak begitu pekat, disertai dengan aroma khas bunga hutan.

Kopi Arabika Java Ijen Raung asal Bondowoso ini merupakan kopi Arabika yang ringan dengan keasaman yang keasaman rendah. Seperti kacang-kacangan dengan sedikit rasa seperti coklat. Bertekstur lembut membuat jenis kopi ini terasa manis saat dicicipi. 

Kopi Robusta Temanggung, Jawa Timur

Jenis kopi ini digemari dan sering diimpor dari Indonesia oleh beberapa negara di Eropa, negara di Timur Tengah, Benua Australia, hingga Jepang. Kualitas rasa selain karena varietas dan kondisi tanah, dapat ditentukan oleh sistem pemanenan. Saat sudah berwarna merah segar, petani di Temanggung mulai memetik buah kopi yang memiliki rasa identik dengan coklat dan sedikit pedas ini.

Kopi Liberika Rangsang Meranti, Riau

Di Kepulauan Meranti terdapat perkebunan kopi Liberika asal Liberia yang tumbuh di tanah gambut. Pada umumnya, kopi tidak cocok ditanam dengan lahan gambut. Namun, kopi Liberika terbukti dapat beradaptasi pada kondisi tanah tersebut. 

Pasar kopi Liberika Rangsang Meranti turut menyebar ke nasional seperti Jakarta, Yogyakarta dan Pekanbaru. Ikut merambah ke negara tetangga, permintaan terbanyak kopi Liberika Rangsang Meranti ini hampir 80 persen hingga 90 persennya datang dari negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura yang secara geografis memang dekat dengan Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. 

Dalam segi kualitas, jenis kopi yang mengeluarkan wangi khas coklat yang lembut, serta memiliki cita rasa perpaduan antara rasa coklat dan nangka ini sudah menyabet sertifikasi IG dan dinyatakan sebagai satu di antara beberapa hasil pertanian terbaik oleh Dirjen Kekayaan Intelektual Nasional RI. 

Asal dan Varietas Kopi Lokal VS Kopi Impor

Kopi lokal adalah manifestasi dari lingkungan tempat tumbuhnya, dan setiap daerah menciptakan ciri khas rasa yang tak tertandingi. Sebagai contoh, Ethiopia, “rumah” kopi Arabika, menghasilkan biji kopi dengan aroma buah-buahan, bunga, dan sentuhan wine yang menciptakan pengalaman sensorial yang mengagumkan. 

Di Kolombia, ketinggian tempat tumbuh kopi menciptakan rasa yang seimbang dengan keaslian rasa buah-buahan dan coklat. Indonesia, khususnya Sumatera, menawarkan kopi dengan tubuh penuh, rasa rempah-rempah, dan aroma tanah liat yang khas. Sejarah kopi lokal sering kali terjalin erat dengan warisan budaya suatu daerah, menciptakan kisah unik yang diceritakan melalui secangkir kopi.

Varietas kopi lokal juga mencerminkan metode pertanian tradisional, seperti metode pengolahan basah atau kering, yang memberikan sentuhan lokal pada rasa kopi. Proses ini tidak hanya menciptakan rasa yang unik, tetapi juga mengekspresikan karakter daerah tempat kopi tersebut tumbuh. Oleh karena itu, ketika kita menyeruput kopi lokal, kita seolah-olah menjelajahi kekayaan alam dan budaya suatu wilayah.