Kumpulan Berita – Hari raya Idul Fitri akan jatuh pada esok hari tanggal 13 mei 2021. Tradisi masyarakat Indonesia ketika sedang ada hari perayaan agama, hal tersebut kemudian dimanfaatkan untu bisa bersilaturahmi dengan keluarga maupun kerabat terdekat.
Namun sayangnya, beberapa orang Indonesia terbiasa untuk melakukan basa-basi dengan menanyakan hal-hal yang sensitif kepada keluarga lain. Pertanyaan-pertanyaan sensitif tersebut kemudian berdampak kepada orang yang ditanya, dan pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian berubah bentuk menjadi tekanan sosial kepada orang yang ditanya. Hal tersebut tentunya tidak baik bagi hubungan keluarga, dan juga bagi kesehatan mental orang yang mendapatkan pertanyaan karena orang tersebut akan merasa ada tekanan dari orang terdekat/keluarga.
Oleh sebab itu, ada baiknya jika kita menghindari pertanyaan-pertanyaan sensitif tersebut agar tidak ada perasaan yang tersakiti. Namun, apa saja sih bentuk-bentuk dari pertanyaan sensitif yang sebaiknya kita hindari? Berikut merupakan 5 contoh pertanyaan yang sebaiknya tidak dipertanyakan saat sedang silaturahmi dengan keluarga, diantaranya yakni :
1. “Kapan lulus kuliah?”
Pertanyaan ini akan sensitif bagi sebagian orang yang belum bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Hindari mempertanyakan pertanyaan seperti ini karena bisa saja orang tersebut sedang berjuang untuk menyelesaikan masa perkuliahannya secara cepat. Kita sebagai orang luar tentunya tidak tau perjuangan apa saja yang sudah dilakukan untuk bisa menyelesaikan perkuliahan dengan baik.
Jika benar-benar peduli dengan masa perkuliahan seseorang, anda bisa mengganti pertanyaan tersebut dengan memberikan semangat. Semangat yang diberikan akan jauh lebih berharga dibandingkan dengan pertanyaan yang memberikan tekanan kepada orang yang ditanya.
2. “Kok belum dapat pekerjaan?”
Pertanyaan ini juga menjadi salah satu pertanyaan sensitif yang sebaiknya tidak ditanyakan saat silaturahmi dengan keluarga. Hal ini disebabkan karena mencari kerja merupakan hal yang tidakĀ mudah untuk dilakukan, apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang kemudian membuat lowongan pekerjaan semakin sedikit.
Beberapa orang setelah mendapat pekerjaan pun kemudian ditanya lagi dengan pertanyaan sensitif lainnya seperti “bekerja dimana?” dan “gaji berapa?”. Pertanyaan ini kemudian berujung dengan membandingkan pekerjaan orang yang ditanya dengan kerabat lain yang mungkin memiliki pekerjaan di tempat bagus dan gaji yang lebih besar. Hal ini tentunya tidak etis untuk dilakukan dan juga tidak memiliki manfaat yang baik jika terus dilakukan. Pertanyaan ini justru akan membuat orang sakit hati karena dibandingkan dengan orang lain.
3. “Kapan akan menikah?”
Pertanyaan sensitif ini menjadi pertanyaan favorit yang sering ditanyakan saat kumpul keluarga. Setidaknya dalam keluarga besar, ada 1 orang yang terus ditanya mengenai hal ini. Terus menanyakan hal ini tentunya tidak baik karena terlalu mengurus privasi orang lain.
Pernikahan bukanlah hal yang main-main dan tentunya harus dipertimbangkan secara matang. Selain itu, tidak semua orang memprioritaskan pernikahan dalam hidupnya. Dengan menanyakan pertanyaan seperti ini juga akan memberikan tekanan sosial yang berakibat buruk kepada orang yang akan ditanya. Oleh sebab itu, pertanyaan seperti ini harusnya tidak dipertanyakan kepada orang lain agar privasi orang tersebut tidak terganggu.
4. “Kok belum punya anak?”
Selain pertanyaan kapan menikah, pertanyaan tentang kapan memiliki buah hati juga menjadi hal yang sensitif untuk dipertanyakan. Karena tidak semua orang mudah memiliki anak. Kita perlu memahami bahwa kehadiran buah hati merupakan berkat yang tidak ternilai yang diberikan kepada Tuhan, oleh sebab itu setiap keluarga ada masanya akan memiliki buah hati.
Selain itu, kita juga tidak tau usaha apa saja yang sudah dilakukan agar keluarga tersebut bisa memiliki anak. Bahkan beberapa keluarga tidak menjadikan “punya anak” sebagai prioritas dalam berkeluarga, dan hal tersebut wajar saja untuk dilakukan.
5. Pertanyaan yang body-shaming seperti
Pertanyaan sensitif selanjutnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang menjelekkan bentuk tubuh seseorang ataupun kekurangan fisik seseorang. Contoh dari pertanyaan seperti adalah :
- Kok gendutan?
- Kok kurusan?
- Kenapa mukanya jerawatan? tidak rawat wajah ya?
- Kenapa tubuhmu pendek sekali?
- Kenapa kulitmu gelap sekali?
- dst.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga sangat sering dipertanyakan oleh keluarga ketika sedang silaturahmi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya tidak dipertanyakan karena bisa menimbulkan rasa sakit hati kepada orang yang akan ditanya.
Selain itu, pertanyaan-pertanyaan tersebut justru akan membuat orang tersebut merasa malu dan tidak percaya diri. Sebaiknya jika ada melihat perubahan fisik dari seseorang, kita tidak perlu mencela fisik orang tersebut dengan menanyakan pertanyaan yang tidak penting. Tentunya orang tersebut tau akan kekurangan mereka tanpa kita menanyakannya.

