Kumpulan Berita – Film Superman (2025) versi James Gunn berhasil debut di Letterboxd dengan rating 4.0. Keunggulan film ini juga diamini pengguna IMDb yang secara kolektif memberi nilai >7,5 mengungguli adaptasi kontemporer komik DC itu seperti Superman Returns (2006) dan Man of Steel (2013).
Dilihat Rabu (16/7/2025), angka rating Superman di Rotten Tomatoes udah nyentuh 83% di Tomatometer dari 385 review. Angka Popcornmeter-nya justru lebih bagus nih, verified hot dengan skor 93%.
Tentu angka ini adalah review yang tercatat pada pekan pertama penayangan. Sampai nanti filmnya turun dari layar, skornya bisa jadi berubah.
Berikut rangkuman skor Superman (2025) sejauh ini:
-
- Rotten Tomatoes 83% (Tomatometer)
- IMDb 7,7
- Metacritic 80 (Metascore)
- CinemaScore A-
- PostTrack 86%
Yang pasti pekan pertama penayangan Superman versi David Corenswet ini udah sukses banget di box office. Pendapatan awalnya tembus angka USD 56 juta atau setara Rp 907 miliar plus USD 21 juta atau sekitar Rp 340 miliar dari pemutaran khusus sebelum US premiere.
Film ini juga telah meraup lebih dari $40 juta atau sekitar Rp 649 miliar dari pasar internasional sejak Rabu (10/7) dan Kamis (11/7) sebelumnya. Sehingga total pendapatan global sebelum akhir pekan pertama mencapai lebih dari $100 juta atau sekitar Rp 1,621 triliun.
Lantas, apa sebenarnya ramuan sukses Superman versi James Gunn? Setidaknya ini 3 faktor yang bisa jadi alasannya.
Diramaikan karakter-karakter pendukung yang solid
Superman (2025) rasanya bakal hambar tanpa kontribusi karakter-karakter pendukung yang solid. Lex Luthor (Nicholas Hoult), Mr. Terrific (Edi Gathegi), Green Lantern (Nathan Fillion), dan Jimmy Olsen (Skyler Gisondo) sukses mencuri perhatian penonton. Berkat performa apik mereka, gak sedikit fans yang mendambakan screentime lebih bahkan film spin-off sendiri untuk beberapa karakter. Terutama Mr. Terrific yang memukau penonton dengan gaya dingin dan kegeniusannya.
Sayangnya, beberapa karakter perempuan seperti Lois Lane (Rachel Boschanan), Hawkgirl (Isabela Merced) dan The Engineer (María Gabriela de Faría) agak tenggelam di film ini. Karakter mereka kurang pengembangan, terlalu pasif dan tak banyak dapat momen yang memorable. Ini juga bisa jadi salah satu konsekuensi keputusan James Gunn memperkenalkan terlalu banyak karakter dalam satu film berdurasi 2 jam 9 menit.
Memanjakan penggemar versi OG-nya
Superman versi James Gunn mengadopsi banyak elemen dari komik. Salah satunya kembalinya trunk (celana dalam) merah dalam kostum yang dipakai David Corenswet. Pada adaptasi DC sebelumnya — Man of Steel (2013) dan Batman v Superman (2016), Justice League (2017) garapan Zack Snyder — detail itu ditinggalkan. Superman versi Snyder terlihat mengenakan kostum yang lebih modern dan minimalis. Detail lain yang ditinggalkan Snyder adalah eksistensi Krypto, anjing super yang jadi teman setia Superman. Padahal, terbukti ketika disertakan dalam film versi Gunn, Krypto jadi semacam daya tarik tersendiri.
Superman yang diperankan David Corenswet di film terbarunya juga diklaim penonton mengingatkan mereka pada Christopher Reeves. Reeves adalah aktor pertama dalam sejarah Hollywood yang memerankan pahlawan super ikonik tersebut. Perannya melekat karena ia tercatat bermain di beberapa seri film sekaligus. Reeves juga mampu menciptakan dua persona berbeda, yakni saat jadi Clark Kent, si jurnalis kikuk dan Superman, alien dengan kekuatan super.
Ide-ide woke-nya menyegarkan
Superman versi James Gunn dapat label woke (sadar sosial dan umumnya condong ke politik sayap kiri). Ada beberapa elemen yang diklaim menunjukkan kecenderungan ini. Mulai dari keputusan Gunn menitikberatkan identitas Clark Kent sebagai alien yang bisa dianalogikan sebagai representasi imigran sampai posisinya yang tegas memihak kemanusiaan dan antiperang.
Masih ditambah fakta bahwa Superman versi baru ini menguarkan kualitas-kualitas maskulinitas positif. Ia dipotret lengkap dengan berbagai sisi rentan: bisa terluka, punya kelemahan yang terekspos, dan lebih melankolis. Nilai-nilai woke, seiring dengan popularitasnya yang naik beberapa tahun belakangan sering dipotret agak berlebihan dan terlalu kentara, sehingga tak jarang justru dicibir.
Berkaca dari itu, Superman (2025) menyertakan nilai dan ide woke dalam porsi yang proporsional. Caranya juga cukup kreatif dan menyegarkan, tak kelewat cringe, cukup mulus dan mudah diterima. Kebanyakan dikemas dalam bentuk satire yang nampol, tapi tetap bikin tergelak.

