Kumpulan Berita – Gerai makanan cepat saji dari Amerika Serikat yakni McDonald’s akhirnya memutuskan untuk keluar dan tidak beroperasi kembali di Rusia. Keputusan yang dilakukan sejak hari Senin (16/5) dilakukan karena berkaitan dengan invasi Rusia ke Ukraina.
McDonald’s sendiri diketahui sudah beroperasi di Rusia lebih dari 30 tahun. Di bulan Maret 2022 setelah Rusia mulai melakukan invasi ke Ukraina, gerai makanan cepat saji ini menutup 847 restoran yang ada di Rusia.
“Krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh perang di Ukraina, telah membuat McDonald’s menyimpulkan bahwa kepemilikan bisnis berkelanjutan di Rusia tidak dapat lagi dipertahankan,” ujar keterangan McDonald’s dikutip dari Reuters, Senin (16/5).
Dalam keputusan untuk keluar dari Rusia, McDonald’s pada mulanya ingin menjual semua restorannya ke pengusaha lokal di Rusia. Namun pada akhirnya McDonald’s memutuskan untuk mempertahankan merek dagangnya.

Dalam 30 tahun terakhir ini, McDonald’s menjadi salah satu simbol kapitalisme Amerika Serikat yang berkembang di Uni Soviet. Pada saat pembukaan gerai makanan cepat saji ini di tahun 1990, setidaknya ada 5 ribu lebih masyarakat Rusia yang menyambut antusias pembukaan restoran McDonald’s.
Akibat invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina, McDonald’s mencatat kerugian mencapai US$127 juta atau setara Rp1,84 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS). Selain menutup gerai usaha di Rusia, McDonald’s juga menutup 108 gerai yang ada di Ukraina untuk alasan keamanan.
Gerai McDonald’s di Rusia dan Ukraina sendiri diketahui berkontribusi sebesar 2% pada total penjualan McDonald’s secara global. Sedangkan dari segi pendapatan, gerai McDonald’s di Rusia dan Ukraina menyumbang sebanyak 3% dari total pendapatan global.
Kerugian sebesar US$127 dari konflik Rusia-Ukraina ini disebabkan karena McDonald’s masih perlu membayar biaya sewa, biaya pemasok, upah karyawan, dan juga kerugian akibat bahan persediaan yang tidak terjual akibat invasi Rusia-Ukraina.

