Biaya Operasional Membengkak, 13 Gerai Matahari Department Store Ditutup

Kumpulan Berita – COVID-19 membawa dampak buruk bagi perusahaan ritel raksasa,   Matahari Department Store. Kebijakan pembatasan sosial maupun pembatasan kegiatan masyarakat dirasa sangat mengganggu bisnis Matahari. Saat awal kemunculan kasus COVID-19 di Indonesia pada Maret, pihak Matahari memberhentikan sementara operasional dari sebagian besar gerai, namun kemudian membuka kembali secara bertahap di Mei. Tapi di pertengahan September, pembatasan kembali diberlakukan yang mengakibatkan penutupan gerai atau pembatasan jam operasional, juga pembatasan jumlah pelanggan.

“Kami meyakini bahwa sangat tidak mungkin penjualan akan kembali ke normal sebelum tahun 2022. Fokus kami saat ini adalah menjaga pelanggan dan karyawan kami tetap aman, sementara bersiap untuk pemulihan yang dapat datang kapan pun, ” kaya Niraj dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis (18/02/2021).

Walaupun telah mencoba beradaptasi dengan menggiatkan penjualan daring dan melakukan upaya-upaya bersama dengan pengelola mall, Senin (26/4/2021), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) diwakili oleh NIraj Jain selaku  Chief Financial Officer (CFO) PT Matahari Department Store Tbk mengatakan bahwa tahun ini akan menutup 13 gerai unit usahanya.

Niraj menjelaskan selama kuartal pertama tahun ini bisnis masih terdampak karena pembatasan sosial berskala besar. Hingga saat ini LPPF masih memiliki 147 gerai termasuk 23 gerai yang kemungkinan besar bakal ditutup.

Robert Sebastian, Analis Ciptadana Sekuritas menilai penutupan oleh pihak perusahaan membuat biaya operasional LPPF lebih efisien. Diketahui pada tahun lalu biaya operasional penjualan mencapai 71,4 persen. “Tahun ini kami perkirakan angkanya turun menjadi 54,3 persen,” ujarnya dalam riset.

Pandemi Covid-19 telah menekan  bisnis PT Matahari Department Store Tbk sepanjang 2020. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Matahari melaporkan mengalami kerugian sebesar Rp 873,18 miliar sepanjang tahun lalu. Padahal, di tahun 2019 Matahari masih bisa mendapat laba sebesar Rp 1,4 triliun. Sepanjang 2020 perusahaan mengantongi pendapatan bersih sebesar Rp 4,8 triliun. Angka itu turun 52,9% dari 2019 sebesar Rp 10,27 triliun. Sedangkan penjualan kotor turun 52,3% menjadi Rp 8,6 triliun.

Kerugian itu membuat Matahari menutup 13 gerai format besar dan 12 gerai khusus yang dianggap tidak menguntungkan tahun lalu. Di sisi lain, Matahari masih membuka 3 gerai format besar baru dan mengkonsolidasi bisnis distribusi.Sehingga pada akhir 2020, Matahari mempunyai 147 gerai.

PT Matahari Department Store Tbk (“Matahari” atau “Perseroan”) memiliki sejarah yang panjang dalam dunia ritel Indonesia. Jejak Matahari sebagai raksasa ritel dimulai pada 24 Oktober 1958 dengan membuka gerai pertamanya berupa toko fashion anak-anak di daerah Pasar Baru Jakarta. Gerai pertama yang bertempat di area seluas 150 meter persegi itu didirikan oleh Hari Darmawan.  Kemudian, Matahari melangkah maju dengan membuka department store modern pertama di Indonesia pada tahun 1972. Sejak saat itu, Matahari terus melesat menjadikan dirinya sebagai merek asli nasional..

Pada 1980, Matahari membuka gerai pertamanya di luar Jakarta di Bogor. Berjalannya waktu, Matahari meluncurkan konsep New Generation, yang menjadi percontohan terbaik dari desain department store yang modern pada 2008. Hingga saat ini, Matahari mengoperasikan 153 gerai yang tersebar di 76 kota di seluruh Indonesia dengan luas ruang hampir satu juta meter persegi. Selain itu, Matahari juga telah mengembangkan kehadirannya dalam dunia online melalui matahari.com. Dengan kesuksesan dan brand image yang melekat di hati masyarakat Indonesia , Matahari menjadi rujukan berbelanja fashion serta produk-produk kecantikan dan barang-barang kebutuhan rumah tanggal lainnya. Matahari memiliki lebih dari 40.000 karyawan dan berkerjasama dengan ratusan pemasok lokal maupun pemasok internasional.