Kumpulan Berita – Tim nasional Spanyol menutup perjalanan gemilang mereka di Piala Dunia 2026 dengan dua pencapaian sekaligus. Selain meraih gelar juara dunia, La Roja juga mencatat rekor baru sebagai tim nasional putra dengan rentetan pertandingan tak terkalahkan terpanjang dalam sejarah sepak bola internasional. Berdasarkan data FIFA, Spanyol kini mengoleksi 38 pertandingan beruntun tanpa kekalahan sejak 2024.
Dalam periode tersebut, tim asuhan Luis de la Fuente membukukan 29 kemenangan dan sembilan hasil imbang.
Trofi Dunia Kedua Setelah 16 Tahun
Sepanjang turnamen, Spanyol tampil konsisten dan menjadi salah satu tim paling stabil. Dari sembilan pertandingan yang dijalani, mereka hanya sekali gagal meraih kemenangan saat ditahan imbang Tanjung Verde 0-0 pada laga pembuka fase grup.
Setelah itu, La Roja menyapu bersih delapan pertandingan berikutnya hingga mengangkat trofi juara dunia.
Keberhasilan tersebut mengakhiri penantian panjang Spanyol untuk kembali menjadi kampiun dunia setelah terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 2010 di Afrika Selatan.
Spanyol juara Piala Dunia 2026 usai menang 1-0 atas Argentina dalam laga final di Stadion New Jersey, Senin (20/7). Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106 memberikan kemenangan bagi Spanyol atas Argentina.
Peran Lamine Yamal dalam Kesuksesan Spanyol
Keberhasilan Spanyol tak lepas dari kontribusi sejumlah pemain muda, terutama Lamine Yamal. Dia yang menjadi salah satu pemain kunci La Roja sepanjang Piala Dunia 2026. Dengan gelar tersebut, Yamal menjadi remaja pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia dan Piala Eropa. Kendati tidak tampil penuh pada awal turnamen karena baru pulih dari cedera, peran Yamal tetap besar untuk prestasi La Furia Roja ini.
Meski kontribusi statistiknya tidak terlalu mencolok, pergerakan dan kelincahannya membuat pelatih serta pemain belakang lawan memberikan pengawasan khusus. Karena itu juga pemain lain Spanyol seperti Mikel Merino, Mikel Oyarzabal, hingga Ferran Torres memiliki ruang menciptakan gol.
Penampilan impresif Yamal sepanjang beberapa tahun terakhir membuatnya semakin sering dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Dua megabintang itu kerap disebut sebagai GOAT (Greatest of All Time) atau pemain terbaik sepanjang masa.
Selain mempertahankan identitas permainan berbasis penguasaan bola dan umpan-umpan pendek, Spanyol juga menunjukkan kemampuan beradaptasi. Hal itu menghadapi berbagai gaya permainan sepanjang turnamen. Keberhasilan tersebut menegaskan dominasi Spanyol di pentas internasional sekaligus membuka harapan besar bagi masa depan La Roja dengan hadirnya generasi muda berbakat.

