Kumpulan Berita – Aksi demonstrasi warga menolak tambang emas di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah yang digelar pada hari Sabtu (12/02) memakan korban jiwa. Dalam demonstrasi tersebut, satu orang dilaporkan tewas akibat tertembak saat aparat mencoba membubarkan paksa aksi demonstrasi yang digelar pada malam hari.
Menanggapi kasus tersebut, Kapolda Sulawesi Tengah yakni Irjen Rudy Sufahriadi mengatakan akan menyelidik kasus tewasnya salah satu demonstran yang menolak tambang emas di Parigi Moutong. Dalam kasus penembakan demonstran yang terjadi di Sulawesi Tengah, sampai saat ini setidaknya sudah ada empat anggota kepolisian yang diperiksa oleh propam terkait dugaan pelanggaran disiplin.
“Sangat disayangkan insiden ini. Namun kami bekerja profesional, siapa pun bersalah akan kami hukum sesuai aturan dan perundang-undangan berlaku,” ujar Rudy dikutip dari laman berita Antara, Minggu (13/2).
Aksi unjuk rasa yang dilakukan untuk menolak tambang emas ini dilakukan oleh kelompok bernama Aliansi Rakyat Tani (Arti) Koalisi Gerak Tambang. Pada hari Sabtu (12/02), mereka melalukan demonstrasi untuk menuntut Pemerintah Sulawesi Tengah agar menutup tambang emas PT Trio Kencana. PT Trio Kencana sendiri memiliki lahan konsesi di Kecamatan Toribulu, Tinombo Selatan, dan Kasimbar.

Dalam aksi demo, para demonstran menutup sejumlah ruas jalan dari pukul 12:00 hingga 24:00 waktu setempat. Saat aksi demo sedang berlangsung, Polisi sudah berupaya untuk melakukan negosiasi agar massa membubarkan diri mengingat jam sudah masuk tengah malam. Akibat aksi demo yang menutup beberapa ruas jalan, jalan poros yang menghubungkan Kabupaten Parigi Moutong dan Provinsi Gorontalo mengalami kemacetan sepanjang 7 km.
“Kapolres telah mengimbau demonstran sebanyak empat kali. Penutupan jalan dilakukan massa aksi sejak pukul 12.00-24.00 WITA yang berujung pada penindakan,” ujar Rudy.
Negosiasi yang dilakukan oleh polisi untuk membubarkan massa tidak berjalan dengan baik, akibatnya polisi berusaha membubarkan massa dengan cara menembakkan gas air mata. Namun setelahnya ada laporan masuk mengenai salah satu demonstran yang tewas tertembak.
Setelah laporan tersebut masuk, kepolisian setempat langsung memeriksa empat orang aparat kepolisian terkait dugaan pelanggaran disiplin. Selain diperiksa, Kabid Humas Polda Sulteng yakni Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan bahwa kepolisian juga sudah menyita seluruh senjata api dari keempat aparat untuk diperiksa lebih lanjut.
“Tadi yang diperiksa sudah empat orang, kemudian seluruh seluruh senpi-senpi pendek dikumpulkan oleh Kabid Propam dan dilakukan pengecekan peluru dari mana,” kata Didit, Minggu (13/2).

