Kumpulan Berita – Fenomena awan berpelangi memukau warganet hingga videonya menjadi viral belakangan ini. Kejadian itu dikabarkan terjadi di daerah Pangandaran, Jawa Barat, pada 13 Mei 2025.
Dari rekaman video yang beredar, pelangi itu berbentuk melingkar di pucuk gumpalan awan besar. Mega itu berwarna abu gelap dengan garis luar berwarna putih. Adapun langit sekitarnya pun terlihat agak gelap. Fenomena ini dikenal dengan istilah cloud iridescence. Keindahan awan pelangi ini bukan hanya memikat mata, namun menyimpan proses ilmiah yang menarik.
Lalu, apa sih sebenarnya cloud iridescence tersebut, dan bagaimana proses terjadinya? Yuk kita pahami lewat penjelasan di bawah ini!
Pengertian cloud iridescence
Mengutip APOD NASA, cloud iridescence adalah fenomena optik yang menghasilkan warna-warni pada awan, mirip dengan warna pelangi. Warna yang ditampilkan umumnya tidak memiliki deretan warna yang jelas, bisa pastel, namun bisa juga sangat cerah.
Ketika berada di dekat matahari, warnanya bisa sulit dikenali karena tenggelam dalam silau matahari. Jadi untuk melihatnya bisa menghalangi matahari dengan tangan atau bersembunyi di balik gedung maupun pohon.
Fenomena ini termasuk dalam kategori photometeor, yaitu fenomena optik yang terjadi akibat interaksi cahaya dengan partikel atmosfer.
Warna-warna yang muncul terutama di tepi awan yang tipis atau semi-transparan, karena cahaya dapat melewati dan mengalami difraksi oleh butiran air atau kristal es yang berukuran sama.
Proses terjadinya cloud iridescence
Kemunculan awan pelangi ini terjadi karena pembiasan dan difraksi cahata matahari atau bulan melalui partikel-partikel kecil di awan.
Melansir SciJinks NOOA, awan pelangi terjadi karena difraksi atau fenomena yang terjadi saat tetesan air kecil atau kristal es kecil menyebarkan cahaya matahari.
Gelombang cahaya yang tersebar memiliki panjang dan jumlah yang berbeda. Setiap panjang gelombang dapat menghasilkan pola interferensi pinggiran terang dan gelap. Awan ini terbentuk hingga ketinggian 30 kilometer.
Proses yang sama menghasilkan cakram berwarna di sekitar Matahari atau bulan atau yang lebih akrab disebut korona.
Fenomena cloud iridescence banyak terjadi di awan altocumulus, cirrocumulus, lenticular, dan cirrus. Sebutan lain dari awan pelangi yaitu nacreous dan mother of pearl.
Faktor terjadinya awan pelangi
Awan pelangi atau cloud iridescence biasanya muncul saat kondisi awan tipis dan baru terbentuk, terutama pada pagi atau sore hari ketika matahari berada di posisi rendah di langit.
Pada waktu ini memungkinkan sudut cahaya yang tepat untuk menghasilkan difraksi warna-warna pastel. Fenomena ini mudah dilihat saat langit cerah dengan sedikit awan lain yang menghalangi pandangan.
Cloud iridescence biasanya muncul di dekat matahari dalam sudut kurang lebih 10-40 derajat dari posisi matahari, jadi posisi dan waktu pengamatan sangat menentukan jika ingin melihat fenomena ini.
Selain itu, kelembapan, suhu, dan kondisi atmosfer lain juga memengaruhi pembentukan awan dan kualitas iridescence. Yaitu ketika suhu hangat dan udara kering.
Sementara faktor lain yang menyebabkan munculnya warna-warna indah pada awan pelangi disebabkan karena cahaya matahari mengalami difraksi dan interferensi saat melewati partikel awan.

