Kembali Erupsi Gunung Dukono, Kolom Abu Capai 2.700 M

Kumpulan Berita – Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara,kembali mengalami erupsi sebanyak dua kali pada Senin (11/5/2026) pagi. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik dengan ketinggian hingga 2.700 meter di atas puncak.

Berdasarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi pertama terjadi pada pukul 06.30 WIT. Tinggi kolom abu mencapai 2.700 meter di atas puncak.

“Terjadi erupsi G Dukono pada hari Senin, 11 Mei 2026, pukul 06:30 WIT dengan tinggi kolom abu teramati ± 2700 m di atas puncak (± 3787 m di atas permukaan laut),” tulis PVMBG dikutip Senin (11/5/2026).

Diketahui pada 8 Mei lalu Gunung Dukono meletus hingga merenggut korban jiwa. Sebanyak 3 orang meninggal dunia di antaranya 2 WN Singapura dan 1 WNI.

Proses pencarian pada hari ketiga, menurut keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), berlangsung lebih terarah. Setelah tim gabungan menandai titik pencarian dengan menggunakan koordinat GPS pada operasi pencarian sehari sebelumnya.

Proses evakuasi dua jenazah tersebut sempat mengalami kendala karena posisi korban tertimbun material vulkanik dengan ketebalan dan kedalaman signifikan, menurut BNPB. Ketiga jenazah kemudian akan dirujuk ke RSUD Tobelo untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.

Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, menyampaikan bahwa sebanyak 150 personel gabungan dikerahkan. Dengan fokus pencarian di sekitar bibir kawah Gunung Dukono.

Viral tak berarti aman

Secara terpisah, Daryono dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) mengingatkan agar publik memahami risiko dalam konteks kebencanaan. Selama ini, masyarakat sering melihat video pendaki atau pemengaruh yang berhasil naik lalu pulang dengan selamat.

“Konten seperti itu perlahan membentuk distorsi persepsi risiko. Orang menjadi merasa aman bukan karena kondisi gunung benar-benar aman, tetapi karena melihat orang lain tampak baik-baik saja di dalam video,” kata Daryono.

Padahal dalam ilmu kebencanaan, keselamatan sebagian orang tidak pernah dapat dijadikan dasar untuk menilai tingkat bahaya.

Fenomena ini, lanjut dia, dikenal sebagai survivorship bias. “Publik hanya melihat mereka yang berhasil turun dan mengunggah konten dramatis, sementara potensi ancaman yang tidak terjadi saat itu menjadi tidak terlihat.”

Bahaya sebenarnya tetap ada dan bisa muncul sewaktu-waktu dalam bentuk lontaran material pijar, hujan abu pekat, gas vulkanik, maupun erupsi eksplosif mendadak. Apalagi jika sudah imbauan untuk tidak mendaki terlebih dahulu.

“Inilah wajah infodemik dalam mitigasi bencana, ketika informasi viral konten media sosial dijadikan acuan keselamatan daripada informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan dari otoritas kebencanaan dan rekomendasi ilmiah,” tambahnya.