Kumpulan Berita – Ki Seno Nugroho, dalang kondang yang dikenal dengan gaya khas campuran Yogjakarta dan Solo ini meninggal pada Selasa (3/11/2020) kemarin.
Sujiwo Tejo seorang sastrawan dan budayawan pun mengingat pertemuan terakhir dengan Ki Seno Nugroho. Peristiwa itu diceritakan Sujiwo Tejo lewat akun Twitter pribadinya, semalam.
“Sugeng tindak Ki Seno Nugroho .. sampai jumpa.. #utangRasa,” cuit Sujiwo Tejo di akun twitternya.
Sugeng tindak Ki Seno Nugroho .. sampai jumpa.. #utangRasa
Waktu Juli lalu sowan ke rumahmu di Sedayu, Yogya, aku gak bisa tegur sapa krn kau ud start mendalang Wayang Climen, pulang duluan krn ada kerjaan, gak bisa pamit .. aku pikir toh kita masih akan ketemu lagi di dunia.. pic.twitter.com/64JgstpdIg— Jack Separo Gendeng (@sudjiwotedjo) November 3, 2020
“Waktu Juli lalu sowan ke rumahmu di Sedayu, Yogya, aku gak bisa tegur sapa krn kau ud start mendalang Wayang Climen, pulang duluan krn ada kerjaan, gak bisa pamit .. aku pikir toh kita masih akan ketemu lagi di dunia,” lanjut Sujiwo Tejo.
Ternyata pertemuan mereka adalah pertemuan terakhir antara Sujiwo Tejo dan Ki Seno Nugroho.
Tak hanya Sujiwo Tejo, namun banyak penggemar yang merasa kehilangan dalang fenomenal yang memiliki penggemar lintas generasi itu.
“Ketika berpikir “toh kita masih bisa ketemu di dunia” ternyata tuhan punya ketentuan lain pakde. Suwargi dumateng Ki Seno Nugroho goro-goro sampean aku jadi seneng nonton wayang karena suara bagongnya yang khas,” timpal @nurkholik**.
“Lelakon wayang beliau jadi teman di sebagian titik berat perjalanan..
Kalau aku gatau artinya,bojo yg menerjemahkan setelah semalaman menyimak..
Ra kebayar utang rasaku,
Sugeng tindak Ki Seno Nugroho,” lanjut @Semong***.

Dusun Gayam, Argosari, Sedayu, Bantul adalah tempat disemayamkannya almarhum Ki Seno Nugroho. Sejak pagi tadi, rumah duka ramai didatangi pelayat yang menyambangi.
Jenazah almarhum disemayamkan di sebuah pendopo di depan rumah. Di atas peti, kain hitam bergambar gunungan wayang digunakan sebagai penutup.
Meninggalnya Seno juga menjadi duka tersendiri bagi Pemkot Yogyakarta. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menyebut meninggalnya Seno adalah hilangnya ikon kesenian wayang kulit yang fenomenal.
“Ya kita kehilangan ikon kesenian wayang kulit yang fenomenal, karena (ki Seno) yang menjadikan wayang kulit masih banyak digemari oleh banyak kalangan,” kata Poerwadi melalui keterangan tertulisnya.
Ki Seno Nugroho sendiri adalah dalang muda yang berasal dari Yogyakarta dan dikenal sebagai salah satu dalang pembaharu gaya pedalangan masa kini.

Ki Seno Nugroho lahir pada 23 Agustus 1972 yang sebenarnya merupakan dalang gaya Yogyakarta, namun dia juga sering memadukan dengan gaya Solo di pementasannya.
Ki Seno Nugroho berasal dari keluarga seniman tradisional. Ayahnya, (alm) Ki Suparman Cermowiyoto, adalah dalang kenamaan gaya Yogyakarta yang sangat termasyur pada masanya.

