Kumpulan Berita – 28 Oktober 1928 adalah hari dimana berlangsungnya Kongres Pemuda II yang menjadi pemicu lahirnya Sumpah Pemuda. Tepatnya 92 tahun yang lalu.
Sumpah Pemuda adalah salah satu titik balik perjalanan bangsa Indonesia menuju Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.
Karena pada saat itu Indonesia masih terpecah-belah, sehingga para pemuda belum tahu siapa musuh mereka dan bagaimana mereka harus bersatu untuk melawannya. Persatuan itu kemudian ditandai dengan momen Sumpah Pemuda.
Sebelum adanya Sumpah Pemuda, sudah banyak bermunculan organisasi pemuda seperti Perhimpunan Indonesia pada 1908, lalu Tri Koro Darmo pada 1915.
Sebelum 28 Oktober 1928, para pemuda masih terpecah dalam beberapa organisasi kedaerahan. Contohnyq seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan masih banyak lagi.
Pada tahun 1921, saat memeringati 5 tahun Jong Sumatranen Bond, Mohamad Yamin menerbitkan sebuah buku kumpulan sajak yang berjudul Tanahair.
Tetapi pada saat itu yang dimaksud Tanah Air oleh Yamin adalah Andalas, Sumatera. Dimana Indonesia belum termasuk di dalamnya.
Dalam masa enam tahun, tumbuh berbagai kesadaran baru di kalangan pemuda, karena musuh yang dihadapi mereka sama, yaitu Belanda.
Kesadaran itulah yang menyebabkan mereka berusaha menggalang persatuan dalam sebuah kesadaran baru.

Lalu pada tahun 1926 diselenggarakanlah Kongres Indonesia Muda yang pertama (Kongres Pemuda I).
Namun pada tahun itu pun kesadaran itu belum cukup untuk melahirkan sebuah sumpah pemuda. Lalu dua tahun kemudian barulah lahir Sumpah Pemuda.
Pada 1928 Moh. Yamin menerbitkan sebuah kumpulan sajak yang baru berjudul Indonesia, Tumpah Darahku. Yang menunjukkan perubahan kesadaran para pemuda.

Ketika Kongres Pemuda II diselenggarakan pada 1928, bahasa Melayu sudah lama menjadi bahasa pergaulan yang dipakai secara luas di seluruh kepulauan Nusantara. Tetap kedudukan bahasa Melayu belum kuat.
Saat itu juga sebagian ahli Belanda menganjurkan agar bahasa Belanda menjadi bahasa resmi di seluruh Indonesia (dipakai seluruh penduduk Bumiputera).
Namun sebagian ahli Belanda yang lain menganggap bahasa Belanda itu begitu tinggi sehingga tidak pantas dipakai oleh kaum inlander (Indonesia).
Karena perbedaan paham inilah akhirnya pemerintah kolonial Belanda tidak segera sampai pada kebijakan untuk menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi satu-satunya.
Padahal sebelumnya Perancis dan Inggris mewajibkan bahasanya diterapkan di daerah jajahannya. Namun kebijakan Belanda itu justru membuat bahasa Melayu memiliki kesempatan menjadi bahasa Indonesia.
Detik-detik Sumpah Pemuda:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2714884/original/049693000_1548666371-MuhammadYamin_01.JPG)
Kongres Pemuda II pun diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928. Kongres itu melahirkan sebuah deklarasi yang dikenang hingga saat ini. Dan Moh Yamin adalah tokoh yang berjasa dalam merumuskan deklarasi itu.
Dia menuliskan gagasan “Sumpah Pemuda” dalam sebuah kertas saat kongres itu berlangsung. Kertas itu kemudian dia sodorkan kepada Soegondo Djojopoespito, yang saat itu menjabat Ketua Kongres.
“Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya punya rumusan resolusi yang elegan),” kata Yamin kepada Soegondo, dikutip dari buku Mengenang Mahaputra Prof. Mr. H. Muhammad Yamin Pahlawan Nasional RI (2003).
Teks Sumpah Pemuda

Deklarasi bernama Sumpah Pemuda itu lahir setelah para peserta menyatakan sebuah kesepakatan bersama akan pentingnya persatuan pemuda.
Namun istilah Sumpah Pemuda sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya.
Berikut ini isi teks keputusan Kongres Pemuda II:
Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Lagu Indonesia Raya yang melegenda
28 Oktober 1928 adalah hari dimana lagu Indonesia Raya diciptakan dan diperdengarkan untuk pertama kali pada Kongres.
Lagu tersebut diperdengarkan secara instrumental di depan kongres dengan biolanya. Satu hal yang menarik dari lagu Indonesia Raya adalah, tidak banyak yang tahu bahwa lagu tersebut selama ini dinyanyikan hanya satu bait saja.
WR Supratman menciptakan lagu tersebut dalam tiga bait (stanza). Dari ketiganya, stanza pertama jauh lebih populer dan dihafal masyarakat Indonesia daripada kedua dan ketiga.

