Kumpulan Berita – Pernah mendengar istilah Bhante, Biksu, dan Bhikkhu? Ketiga istilah tersebut berkaitan dengan kehidupan monastik dalam agama Buddha, tetapi memiliki penggunaan dan konteks yang berbeda.
Dalam tradisi Buddha, khususnya Theravada, terdapat istilah bhikkhu untuk menyebut anggota sangha laki-laki yang menjalani kehidupan monastik. Sementara itu, biksu merupakan istilah yang lebih umum dalam bahasa Indonesia untuk menyebut rohaniwan atau anggota sangha laki-laki dalam sejumlah tradisi Buddha. Adapun Bhante merupakan sapaan kehormatan yang digunakan untuk menyapa seorang bhikkhu atau biksu dalam konteks tertentu, terutama dalam tradisi Theravada.
Karena penggunaannya sering terdengar dalam berbagai kegiatan keagamaan, ketiga istilah tersebut terkadang dianggap sama. Padahal, terdapat perbedaan dari sisi makna dan penggunaannya.
Apa Itu Bhante?
Bhante merupakan sapaan kehormatan dalam tradisi Theravada yang digunakan ketika berbicara kepada atau menyebut seorang bhikkhu dengan penuh hormat.
Istilah ini bukan nama jabatan atau status monastik tersendiri. Dengan demikian, seorang bhikkhu dapat disapa dengan sebutan Bhante dalam situasi tertentu.
Sapaan tersebut lazim digunakan ketika umat meminta nasihat, berdiskusi mengenai Dhamma, atau menyampaikan penghormatan kepada seorang anggota sangha.
Apa Itu Biksu?
Biksu adalah istilah yang lebih umum dalam bahasa Indonesia untuk menyebut seorang anggota kehidupan monastik Buddha. Penggunaannya dapat berbeda menurut tradisi dan konteks keagamaan.
Dalam tradisi Theravada, istilah yang digunakan dalam bahasa Pali adalah bhikkhu untuk monastik laki-laki. Sementara itu, dalam tradisi Mahayana, istilah biksu dapat digunakan dalam konteks yang lebih luas untuk menyebut anggota monastik.
Untuk monastik perempuan, terdapat istilah bhikkhuni dalam tradisi yang menggunakan terminologi Pali.
Karena itu, istilah “biksu” dan “bhikkhu” memiliki hubungan yang erat, tetapi penggunaan keduanya dapat dipengaruhi oleh tradisi Buddha dan bahasa yang digunakan.
Apa Itu Bhikkhu?
Bhikkhu adalah istilah dalam bahasa Pali untuk anggota sangha laki-laki yang telah menjalani kehidupan monastik Buddha, khususnya dalam tradisi Theravada.
Seorang bhikkhu menjalankan aturan disiplin monastik yang dikenal sebagai Vinaya. Aturan tersebut mengatur berbagai aspek kehidupan monastik, termasuk perilaku, hubungan dengan umat, penggunaan barang pribadi, hingga tata cara menjalani kehidupan sehari-hari.
Kehidupan seorang bhikkhu umumnya berkaitan dengan praktik seperti meditasi, mempelajari Dhamma, menjaga disiplin monastik, serta mengajarkan ajaran Buddha kepada umat.
Jadi, Apa Perbedaan Ketiganya?
Secara sederhana, perbedaannya dapat dipahami seperti berikut:
-
- Bhikkhu: istilah untuk anggota sangha laki-laki dalam tradisi yang menggunakan istilah Pali, terutama Theravada.
- Biksu: istilah yang lebih umum dalam bahasa Indonesia untuk menyebut anggota monastik Buddha, dengan penggunaan yang dapat berbeda antartradisi.
- Bhante: sapaan kehormatan yang ditujukan kepada seorang bhikkhu atau biksu dalam konteks tertentu, terutama dalam tradisi Theravada.
Dengan demikian, Bhante bukan kategori monastik yang berbeda dari bhikkhu, melainkan bentuk sapaan penghormatan.
Mengenal Tradisi Thudong dalam Kehidupan Biksu
Selain istilah dalam kehidupan monastik, umat Buddha juga mengenal thudong atau dhutanga, sebuah praktik pertapaan yang berkaitan dengan menjalani kehidupan sederhana dan disiplin.
Dalam perkembangannya, istilah thudong di Indonesia sering digunakan untuk menggambarkan perjalanan kaki para bhikkhu atau biksu menuju tempat tertentu, termasuk perjalanan dalam rangka kegiatan keagamaan menjelang Waisak.
Dalam sejumlah kegiatan, para biksu dari berbagai daerah atau negara berjalan kaki menuju lokasi tujuan, termasuk kawasan Candi Borobudur. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari praktik spiritual dan latihan kedisiplinan.
Untuk perjalanan lintas negara, tentu terdapat tahap perjalanan menggunakan transportasi seperti pesawat. Setelah tiba di negara atau wilayah tujuan, perjalanan selanjutnya dapat dilakukan dengan berjalan kaki sesuai dengan rangkaian kegiatan yang mereka jalani.
Thudong dan Latihan Kesabaran
Perjalanan panjang dengan berjalan kaki memiliki unsur latihan fisik dan mental. Para peserta dituntut untuk menjaga kesabaran, kedisiplinan, dan ketahanan selama menempuh perjalanan.
Selain menghadapi rasa lelah dan kondisi perjalanan yang berubah-ubah, mereka juga perlu menjaga perilaku serta ketenangan selama menjalankan praktik tersebut.
Karena itu, perjalanan thudong tidak semata-mata dipandang sebagai aktivitas berjalan kaki, tetapi juga dapat menjadi bagian dari latihan spiritual dan pengendalian diri.
Kesimpulan
Istilah Bhante, biksu, dan bhikkhu memang sama-sama berkaitan dengan kehidupan keagamaan Buddha, tetapi penggunaannya tidak sepenuhnya sama. Bhikkhu merujuk pada monastik laki-laki dalam terminologi Pali, biksu merupakan istilah yang lebih umum dalam bahasa Indonesia, sedangkan Bhante merupakan sapaan kehormatan yang lazim digunakan dalam konteks Theravada.
Memahami perbedaan istilah tersebut dapat membantu kita mengenal kehidupan sangha dan keragaman tradisi Buddha dengan lebih tepat. Selain itu, memahami tradisi seperti thudong dan perkembangan Theravada, Mahayana, serta Vajrayana juga dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai keberagaman praktik dalam agama Buddha.

