Sejarah Terbentuknya Paskibraka beserta Manfaatnya

Kumpulan Berita – Penampilan yang kerap ditunggu-tunggu oleh masyarakat setiap perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di Istana Negara adalah prosesi pengibaran bendera merah putih. Prosesi pengibaran bendera merah putih ini menjadi momen istimewa. Hal itu  karena dilakukan oleh pelajar SMA terpilih dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam Paskibraka.

Dikutip dari laman resmi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan berbagai sumber lainnya, Paskibraka merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Istilah ini mulai digunakan sejak 1973, ketika Idik Sulaeman mengusulkan nama tersebut untuk menyebut individu-individu yang bertugas mengibarkan duplikat bendera pusaka di Istana Negara. Sebelumnya, pada periode 1967–1972, mereka dikenal dengan sebutan Pasukan Pengerek Bendera Pusaka.

Di bawah ini rangkuman penjelasan tentang sejarah, hingga tugas dari paskibraka. Yuk, langsung saja simak penjelasan di bawah ini.

Sejarah Paskibraka

Dikutip dari portal seleksi calon Paskibraka Indonesia oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila RI, sejarah mengenai ide pembentukan Paskibraka muncul pada tahun 1946 dari seorang Mayor bernama Husein Mutahar. Pada saat itu, ibu kota Indonesia dipindahkan ke Jogja dan Presiden Soekarno memberikan mandat kepada salah satu ajudannya. Ajudannya bernama Husein Mutahar, untuk mempersiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta.

Dalam upaya memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1 tersebut, Husein Mutahar mempunyai suatu ide berupa pengibaran bendera pusaka. Hal itu akan dilakukan oleh pemuda dari seluruh wilayah di Indonesia.

Dengan keadaan yang sulit pada saat itu, menjadi menghambat pelaksanaan ide dari Husein Mutahar. Akhirnya, ia hanya dapat menghadirkan lima orang pemuda saja (3 putra dan 2 putri) yang berada di Jogja dan kebetulan berasal dari berbagai wilayah Indonesia.

Penetapan lima orang petugas dalam pelaksanaan upacara Proklamasi Kemerdekaan RI ke-1 tersebut menjadi lambang Pancasila dengan jumlah 5 (lima) sila di dalamnya. Sejak tahun 1946-1949, prosesi pengibaran bendera dalam peringatan HUT RI tetap dilakukan dengan cara tersebut dengan pembinaan oleh Mutahar.

Lalu, ketika Ibu Kota Indonesia kembali ke Jakarta pada tahun 1950, Husein Mutahar tidak lagi membina pelaksanaan pengibaran bendera pusaka. Sejak saat itu sampai tahun 1966, pelaksanaan pengibaran bendera pusaka di Istana Merdeka diambil dari pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta dan dibina oleh Rumah Tangga Kepresidenan.

Husein Mutahar kembali dipanggil oleh Presiden Soeharto pada tahun 1967 untuk menangani hal terkait pengibaran bendera pusaka setiap peringatan HUT RI. Akhirnya, ia menggunakan ide dasar dengan dilakukan pengembangan formasi pengibar bendera menjadi 3 kelompok, sebagai berikut:

    • Pasukan 17: pengiring (pemandu);
    • Pasukan 8: pembawa bendera (inti);
    • Pasukan 45: pengawal.

Adapun latar belakang dari penetapan formasi tersebut yaitu, tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17-8-45 atau 17 Agustus tahun 1945.

Manfaat Menjadi Paskibraka

Adapun berbagai manfaat yang didapatkan oleh siswa SMA maupun sederajat yang menjadi Paskibraka atau kader bangsa Indonesia. Dikutip dari laman resmi Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ngawi, berikut merupakan manfaat dari Paskibraka.

    1. Membentuk sikap disiplin, para peserta Paskibraka akan mendapatkan pembinaan terkait kedisiplinan selam karantina;
    2. Mengajarkan manajemen waktu, dengan berbagai jadwal kegiatan yang padat dapat melatih para peserta Paskibraka dalam manajemen waktu yang baik;
    3. Mengembangkan kemampuan kerja sama tim, pengembangan skill team work tentu saja harus dilakukan oleh para peserta Paskibraka;
    4. Menanamkan rasa syukur, terpilih menjadi peserta Paskibraka dari ribuan orang seharusnya dapat menumbuhkan rasa syukur. Apalagi kesempatan mengibarkan bendera pusaka adalah hal yang patut untuk dibanggakan;
    5. Menumbuhkan rasa cinta tanah air, dengan mendapatkan kesempatan untuk mengibarkan bendera pusaka. Hal itu seharusnya mampu memupuk rasa cinta terhadap tanah air yang semakin tinggi.