Asal Usul Cincin Saturnus Menurut Tim Ilmuan Dunia

Kumpulan berita – Saturnus adalah planet keenam di tata surya yang dikenal dengan cincin yang mengitarinya. Bahkan dengan cincin itu, Saturnus mendapat gelar sebagai planet paling mencolok di tata surya.

Cincin yang mengitari planet Saturnus awalnya membingungkan ilmuwan meski berbagai teori mengenai terbentuknya cincin itu telah dijelaskan. Namun, kini ilmuwan memiliki teori terbaru yang mampu menjelaskan terbentuknya cincin itu.

Cincin milik Saturnus, pertama kali diamati oleh Galileo Galilei pada tahun 1610, namun hanya dianggap sebagai dua bulan raksasa karena keterbatasan teknologi teleskop. Setelah 45 tahun, baru astronom Christiaan Huygens mengungkap bahwa dua bulan tersebut merupakan cincin yang mengelilingi Saturnus.

Kemudian, saat ini beberapa tim ilmuwan ruang angkasa berhasil mengungkapkan asal usul cincin planet Saturnus.

Teori beberapa tim ilmuan Dunia

Institut Teknologi Massachusetts

Menurut tim ilmuan dari Institut Teknologi Massachusetts berasal dari bulan kuno yang sudah hilang.

Planet Saturnus sendiri memiliki 82 bulan. Sebab itu, tim peneliti mengusulkan planet itu mungkin pernah memiliki satu bulan lagi yang mengorbit selama beberapa miliar tahun.

Namun sekitar 160 juta tahun lalu, bulan itu menjadi tidak stabil dan mengorbit terlalu dekat ke planet Saturnus. Akhirnya bulan itu menabrak planet Saturnus dan sisa-sisa tabrakan itu terlempar ke orbit dan pecah menjadi bongkahan es kecil yang akhirnya membentuk cincin di planet itu.

Sebelumnya, ilmuwan mengungkapkan jika cincin planet Saturnus berusia lebih muda dibandingkan dengan planet itu sendiri, yaitu sekitar 100 juta tahun. Namun, studi yang dipublikasi kemarin di Jurnal Science menunjukkan temuan yang berbeda.

Dalam meneliti, tim ilmuwan menggunakan pengukuran yang dilakukan pada tahun 2017 di akhir misi satelit Cassini milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang menghabiskan 13 tahun menjelajahi Saturnus dan bulan-bulannya.

Edgard Rivera-Valentin peneliti di Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory

Mengutip dari laman Smithsonian Magazine, pada tahun 2016, Edgard Rivera-Valentin yang saat itu menjadi peneliti di Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory menggunakan model komputer baru untuk memeriksa bulan Saturnus, Iapetus dan Rhea.

Temuan milik Rivera-Valentin tersebut lalu dipresentasikan pada konferensi Lunar and Planetary Sciences di Texas, ternyata mendukung gagasan cincin Saturnus lebih tua dari yang diperkirakan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan cincin dan bulan Saturnus baru berusia 100 juta tahun, relatif muda dalam kehidupan tata surya.

Sebelumnya, Rivera-Valentin telah menghitung berapa banyak puing yang menghantam Iapetus, yang menurutnya seharusnya menjadi bulan tertua.

Ia kemudian menggunakan teknik serupa untuk menghitung berapa banyak material yang melukai bulan lain, Rhea. Ditemukan Rhea lebih sedikit terkena dampak hantaman dibandingkan Iapetus.

Kemungkinan dari fenomena tersebut, ialah jumlah materi yang mengenai bulan lebih kecil dari yang sebelumnya dihitung atau Rhea terbentuk lebih lambat dari Iapetus, dan mungkin setelah Late Heavy Bombardment yang terjadi 3,9 miliar tahun yang lalu.

  • Metode Perhitungan Kawah

Melalui perhitungan kawah, diketahui Rhea jauh lebih tua dari diprediksi oleh beberapa model.

“Jadi model yang mengatakan mereka bisa terbentuk 100 juta tahun yang lalu, setidaknya saya bisa mengatakan tidak (atas model tersebut), kemungkinan besar bukan itu masalahnya,” kata Rivera-Valentin.

Model yang mengungkap Rhea terbentuk sekitar waktu Late Heavy Bombardment semuanya bekerja dengan sejarah pembentukan kawah bulan itu. Penelitian milik Rivera-Valentin ini telah membantu membuktikan bahwa satelit Saturnus memiliki asal yang jauh lebih tua.

Selain menawarkan keindahannya, cincin dan bulan Saturnus juga dapat memberikan petunjuk untuk berburu planet bercincin di luar tata surya. Saat ini, hanya satu planet ekstrasurya bercincin yang telah teridentifikasi. Namun, hal tersebut dinilai cukup janggal karena tata surya memiliki empat planet yang dilengkapi dengan cincin.